Sunday, February 25, 2018

Air Mata Ibu

Cerpen Idwar Anwar
MATA perempuan itu sembab. Kelopak matanya yang banyak dirambati garis-garis keriput sesekali mengatup. Perempuan tua itu terisak. Ada pedih yang menggelayuti perasaannya. Ia menarik nafas setelah berkali-kali perbuatan itu dilakukannya. Ia ingin membuang tumpukan resah di dadanya yang kian menggunung dan dipenuhi belukar. Tapi teramat sulit. Ia bahkan kadang tak sanggup menguasai dirinya.

Lalu perlahan perempuan tua itu berdiri. Tatapannya berusaha menerobos kegelapan melalui jendela yang sedikit terbuka. Namun kegelapan tak memberikannya sesuatu yang berarti. Seraya menarik nafas panjang dan membuangnya dengan cepat, ia berdiri lantas melangkah gontai menuju jendela.

Jari-jari lentiknya yang juga telah berkerut perlahan membuka jendela itu semakin lebar. Suara derit terdengar pelan. Tatapannya kadang redup menyorot di kegelapan malam. Angin yang berkesiur terasa dingin membentur tubuhnya yang renta. Resah menggeliati jiwanya. Perempuan dengan larik-larik duka itu kembali menarik nafas. Terasa berat. Ia benar-benar merasakan teramat banyak perjalanan hidupnya yang tak mampu ia terjemahkan.

Sorot matanya masih membentur pekat malam. Daun-daun yang berguguran dirasakannya berjatuhan dalam dadanya. Perempuan tua itu kembali berusaha memenjara masa lalunya. Masa lalu bersama anak semata wayang yang begitu dicintainya.

Namun yang ia rasakan hanyalah kelam yang mengungkung. Perempuan itu tak mampu lari. Ia tersekap begitu saja dan tenggelam di dalam pusarannya.

“Akhh,” suaranya tersedak. Di tariknya kembali nafas dalam-dalam. Air mata tiba-tiba memburamkan pandangannya.

Resah. Sejenak ia memalingkan wajahnya ke dalam rumah lalu kembali menatap ke luar jendela. Perempuan itu pelan-pelan mengangkat wajahnya dan menengadah ke langit. Ia seperti tak ingin air matanya tumpah membasahi garis-garis renta di pipinya. Pandangannya benar-benar kabur. Cahaya bulan yang mulai terang, bias di matanya.

“Lisa, mengapa kau begitu tega pada ibu?” suaranya lemah berusaha menerobos kepekatan hatinya.

Dibuangnya keresahan yang mengecambah dalam dadanya. Yang ia rasakan detak jantungnya berpacu, seperti saling berkejaran dengan derita.

“Lisa, bukankah ibu adalah bagian dalam dirimu? Tapi mengapa kau tarik dan hempaskan ibu dalam gulita ini?” Suaranya berat. Begitu sulit mengalir dari bibirnya. Seperti tertahan di tenggorokan.

Malam kian kelam. Angin yang menerpa tubuhnya membuatnya gigil. Di kejauhan, suara binatang malam lamat-lamat berlomba memperdengarkan suaranya. Ada risau. Kenyerian yang panjang. Begitu banyak kegelisahan yang berlumutan.

Ditatapnya pohon yang berkelindang dalam bola matanya. Daun-daun masih berguguran. Angin berhembus kencang seperti membaca kegelisahannya. Derit daun jendela yang diterpa angin kembali terdengar.  

Perempuan tua itu membalikkan tubuhnya, melangkah ke arah tempatnya semula duduk. Sebuah bingkai foto yang di beberapa bagiannya nampak retak, tergeletak di atas meja yang ditutupi kain kusam. Selembar foto buram seorang perempuan cantik nampak tersenyum dari dalam bingkai foto itu. Manis sekali.

Kembali perempuan itu menarik nafas. Ia menatap foto yang tergeletak di hadapannya. Selembar foto perempuan muda yang sedang tersenyum itu tiba-tiba membakar bola matanya.

“Ahh. Mengapa senyum yang begitu manis ini membuatku tak mampu merasakan kebahagiaan. Kenapa senyuman ini hanya menyisakan kesedihan yang teramat menyiksa dalam diriku,” ucapnya membatin sedikit mendesis.

Tapi perempuan tua itu tak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Pertanyaan yang terlintas dan terus menerus mematuk-matuk dalam benaknya.

***

Seorang bayi perempuan mungil lahir dari rahim perempuan itu hampir 20 tahun lalu. Tangis bayi itu menyemarakkan senyum orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Orang-orang yang sedari tadi menunggu dengan gelisah kelahiran sang bayi. Perempuan itu tersenyum renyah. Meski tetesan keringat masih menempel jelas di permukaan wajahnya, tapi tak sanggup menutupi senyum kebahagiaan yang ia rasakan.

Butiran-butiran keringat yang bermunculan dari pori-porinya, malah nampak menyegarkan kulit wajahnya yang putih bersih. Dan tangis sang bayi yang masih berbalut air ketuban menumbuhkan bunga-bunga dalam dirinya. Ribuan sakit yang ia rasakan seketika saja sirna oleh tangis sang bayi.

Hampir 20 tahun lalu, bayi itu masih mungil. Hanya tangis yang ia sisakan dalam setiap tarikan nafasnya. Sang bayi meraung, dan orang-orang yang mendengarkannya hanya tersenyum. Mereka malah bergembira dan meletakkan mulut sang bayi di telinganya, membiarkan suara tangis itu merambati labirin telinganya. Lalu mereka tertawa gembira. Bahagia mendapatkan seorang pelanjut generasi.

Membayangkan 20 tahun lalu, perempuan itu lalu tersenyum. Walau di sudut matanya segerombolan titik air masih bermunculan. Ia membayangkan sang bayi tumbuh dengan cerianya. Berlajar berucap. Ia pun tak bosan-bosannya mengajarinya kata-kata.

“Aaa… aaa… aaa… aaa….”
“Maammm.” Suara sang bayi terasa garing di telinganya.

Sebagai seorang ibu, ia terus saja mengajari sang bayi merangkai kata demi kata menjadi kalimat-kalimat indah. Tak sekalipun ia mengajari anaknya kata-kata kasar. Lidah sang bayi dibiarkannya merangkak dari satu huruf ke huruf yang lain. Ia menuntunnya dengan kegembiraan seorang ibu yang telah menyematkan harapan pada sang bayi. Sebuah harapan yang kelak menjadikannya seorang perempuan yang akan menyeruput kesempurnaan kebahagiaan sebagai seorang ibu.

Lantas, salahkah bila semua kebahagian itu ia inginkan dari sebuah pengorbanan? Salahkan jika ia harus memberikan keseluruhan jiwa raganya untuk menjaga sebuah amanah yang dilimpahkan oleh Sang Maha Pemberi kepadanya? Sejumlah pertanyaan terus berkecamuk dalam kepalanya, berlomba-lomba ingin keluar dan mempertegas keberadaannya sebagai seorang ibu.

Perempuan itu kembali tersenyum. Ia teringat ketika anaknya mulai belajar merangkak. Dengan penuh kasih sayang ia mengajari sang anak belajar berdiri. Akhh, kebahagiaan begitu sempurna di depan matanya. Ia benar-benar merasakan dirinya sebagai perempuan paling bahagia ketika itu, meski suaminya telah meninggal satu bulan sebelum kelahiran sang bayi.

Membayangkan semua itu, sudut mata perempuan itu berkilauan. Walau di sudut bibirnya, ia juga mencoba menarik garis-garis senyum yang dirasakannya hambar. Ia tak pernah membayangkan jika mulut yang dengan segala keikhlasannya diajarkannya untuk mengucapkan kata-kata, ternyata mulut itulah yang telah memuntahkan kata-kata kotor kepadanya. Mulut itulah yang dengan keberingasannya memporak-porandakan segala harapannya sebagai seorang ibu.

Sungguh, ia betul-betul tak pernah membayangkan kata yang satu demi satu pernah diejakannya itu telah menjadi beribu-ribu kata yang kini menyayat-nyayat perasaannya. Setiap kata yang diajarkannya telah menjelma ribuan tawon yang dengan garang menyerang dan menusuk-nusuk setiap titik kesadarannya sebagai seorang ibu.

Perempuan itu hanya menangis dan menangis dalam kebekuannya. Angin yang menyaput wajahnya melalui jendela yang terbuka lebar sedikit meredam tangisnya, namun menuai gigil. Hanya butiran-butiran bening yang bertumbuh satu demi satu di sudut matanya. Berkali-kali ia menarik nafas, tapi sesak begitu sulit ia hempaskan.

Diraihnya foto berbingkai remuk yang masih tergeletak dihadapannya. Jemarinya yang sedikit gemetar perlahan mengusap wajah dalam bingkai foto itu. Penuh perasaan ia meraba-raba wajah cantik yang tersenyum itu.

“Anakku, kau sungguh cantik. Tapi wajah ini, mengapa terasa begitu hambar dalam diriku. Padahal dari rahimkulah semua yang kau miliki bermula di dunia.”

Dibelainya bibir mungil yang tersenyum indah itu. Ia menarik nafas panjang. Tak  sanggup ia membayangkan bagaimana bibir mungil ini memuntahkan ribuan nanah di wajahnya. Tak kuasa ia memutar kembali masa kelam, dimana bibir itu dengan teganya memaku awan gelap di wajahnya.

“Lisa mengapa bibir mungilmu ini kau gunakan untuk mencaci-maki ibu? Tak sanggup kubayangkan dari bibir indah ini, ribuan sampah kau semburkan dengan wajah kaku dan mata melotot. Bukankah sekian lama telah kuajarkan kalimat-kalimat indah? Darimana kau dapatkan kalimat-kalimat kotor dan menjijikkan itu? Adakah orang yang mengajarimu hanya untuk sekedar menyakiti hati ibu?”

Dadanya sesak. Bertumpuk-tumpuk karang bertengger di dadanya. Perempuan itu meradang. Ia membayangkan ketersiksaan yang teramat menyakitkan. Namun ia terus berusaha merenda doa-doa bagi sang anak. Doa-doa yang diselimuti air mata, darah dan bahkan bercampur nanah. Doa-doa yang dipanjatkan dengan bibir dan tangan gemetar. Doa-doa yang dilafalkan dengan lidah yang telah menghitam.

Sungguh, yang ia bayangkan hanyalah udara renyah dengan anginnya yang jernih memenuhi rongga dadanya dan mengalir di setiap aliran darahnya. Yang ia bayangkan hanyalah negeri dimana sungai-sungai mengalirkan air bening. Sungai-sungai yang merapalkan mantra dimana apapun yang mengalir di dalamnya akan membawa kebaikan.

Sekian lama, kepedihan menjadi percintaan baginya. Perempuan itu tak pernah menanam benci dalam dirinya. Semua doa-doa untuk anaknya mengalir dengan segala keikhlasan. Ia hanya membayangkan negeri dimana matahari hanya memancarkan cahaya sejuk. Negeri dimana pohon-pohon yang bertangkai kilat dan berbunga bulan tumbuh menjuntai dari langit.

Ya, yang ia bayangkan hanyalah sebuah negeri dimana ia dapat menyaksikan keindahan yang belum pernah disaksikannya selama hidup. Ia mendambakan negeri yang tak pernah terlintas dalam benaknya, namun ia yakin negeri itu adalah negeri yang dipenuhi kedamaian dan kesejukan. Negeri dimana ia bisa terbang dan tak terpenjara oleh ruang dan waktu.

Tapi semuanya begitu saja sirna ketika ia diseret, dikerangkeng dan dipaksa membayangkan sumpah serapah dari bibir mungil sang anak. Ia takut, apa yang dibayangkannya menjadi sia-sia karena tak mampu membawa sang anak menjadi manusia yang memiliki totalitas penghambaan yang hakiki.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Ada gelisah yang kian membelukar di wajahnya. Ada resah yang memaku duka di matanya yang kemudian kembali menggenangi bola mata itu dengan air bening.

Ia kembali mengusap wajah yang terkapar dalam bingkai foto di hadapannya. Dengan lembut dielusnya jari lentik anaknya. Sesekali kesejukan merambat. Namun dengan cepat terhalau kembali oleh rasa perih yang menyayat; berdarah.

“Jarimu begitu indah anakkku. Tapi sungguh, tak pernah kubayangkan sekalipun jemari ini bisa berbuat kejam, bahkan kepada ibumu sendiri. Tak pernah kubayangkan jari inilah yang meneteskan darah dari tubuh ibu yang telah renta ini,” ucapnya membatin. Tak sanggup rasanya jika kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya.

Tatapannya melekat pada jemari Lisa. Bentuk dan ruas-ruasnya bagai batang-batang bambu yang ujungnya mengecil. Kuku-kukunya yang bening bagai bercermin di telaga. Tapi jangan suruh ia membayangkan bagaimana jari-jari itu diajarinya menggenggam. Atau bagaimana jari-jari itu ia kuatkan agar kelak tidak menjadi lemah dan mampu berguna untuk kebaikan. Jangan suruh perempuan itu untuk membayangkannya, sebab ia tak kuasa membayangkan jika ternyata jari-jari itulah yang kelak menampar wajahnya dan menorehkan luka-luka di tubuhnya.

“Anakku, mengapa kau mampu melakukan semua itu pada ibumu. Bukankah ibu hanya mengajarimu kelembutan?” Batinnya kian tersiksa. Ditariknya nafas sedalam yang dadanya mampu tampung hingga mau meledak.

Tetapi perempuan itu dipaksa masuk dan menyelami masa lalunya. Ia lalu membayangkan pula bagaimana ia membimbing sang anak untuk belajar berjalan. Memorinya memutar kenangan bagaimana ia menguatkan kaki-kaki anaknya agar mampu menopang tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit.

Namun, sepertinya dunia ingin mengutuknya. Ia benar-benar tak pernah membayangkan jika kaki-kaki yang dikuatkannya itulah yang kelak akan mendangnya, hingga ke ujung langit kesadarannya. Kaki-kaki itulah yang membuatnya sempat lumpuh karena terjatuh dari tangga setelah kaki-kaki itu menendang tubuhnya dengan keras. Ya, sekuat yang dulu ia inginkan, tapi bukan untuk menendang tubuhnya; tapi untuk berjuang hidup.

***

Membayangkan semuanya, membuat perempuan itu menjadi batu. Ia lebih memilih menjadi batu daripada harus melahirkan seorang anak yang kelak akan menjadikannya sampah. Namun ia tetaplah ibu, seorang ibu yang ditakdirkan untuk melahirkan manusia-manusia apapun ke dunia. Melalui rahimnyalah kehidupan di dunia ini mulai berjalan. Dan karena itulah, ia tetap memiliki kasih sayang.

Perempuan itu pernah membayangkan anaknya akan datang, setelah sekian tahun meninggalkannya, dengan senyuman yang terindah. Berlarian dari ujung halaman dan mendekapnya dengan dekapan seorang anak yang merindukan belaian dan kasih sayang seorang ibu. Membayangkan anaknya datang dengan linangan air mata seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya. Tapi semua hanya tinggal harapan. Anaknya tak pernah muncul. Di ujung halaman, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan tahun berganti, anak yang didambakannya tak juga kunjung datang.

Ia menarik nafas. Begitu berat rasanya. Batinnya meradang, “Anakku, mengapa kau pergi begitu saja tanpa pernah memohon ampun dan bersujud di kaki ibu? Mengapa kau berlalu bagai badai tanpa pernah menyadari sedikitpun kesalahan yang kau lakukan. Tapi walau begitu, ibu tetaplah ibumu yang selalu mencintaimu. Ibu tak pernah menanam sedikitpun dendam di hati ibu. Meski ibu tahu, sakit yang kau buat selalu berdarah dan bahkan membusuk. Tapi sekali lagi, ibumu tetaplah ibumu yang sampai saat ini selalu memaafkan apapun yang kau perbuat kepada ibu. Dan berdoa semoga rahmat Tuhan senantiasa menghampirimu.”

Kesedihan merambati seluruh kesadarannya. Linangan air matanya menetes bercipratan di atas foto anaknya. “Sakit itu selalu ibu kubur dalam-dalam. Luka itu selalu ibu balut dengan senyum, meski air mata ibu kerap menggenang. Ibu mencintaimu nak, melebihi cinta ibu kepada diri ibu sendiri. Luka apalagi yang belum kau buat di tubuh ibumu ini? Tapi luka apapun itu, ibu selalu mampu menerimanya. Karena aku menyayangimu. Ya, karena ibu menyayangimu. Aku tak ingin membenci sesuatu yang dititipkan Tuhan dalam rahimku, meski titipan itu sungguh menyiksaku.

Air mata ibu mengalir bagai sungai-sungai api… sungai-sungai surga….. 

Makassar-Palopo, 8 Oktober 2009

0 comment