Friday, February 23, 2018

Diplomasi di Atas Ranjang

Cerpen Idwar Anwar

Sesosok mayat membujur kaku. Pakaiannya bersimbah darah yang hampir mengering. Usianya kira-kira 35 tahun. Meski rambutnya awut-awutan dengan mata yang membelalak seakan ingin meloncat keluar, namun wajahnya yang tampan dengan kulit sawo matang yang bersih, masih nampak jelas.
Dari tampang dan dandanannya, sepertinya ia berasal dari keluarga berada. Atau mungkin saja ia sendiri adalah pengusaha muda yang sukses menjalankan usaha orang tuanya. Entah. Yang jelas ia sudah tak bernyawa. Dua lubang yang cukup besar bertengger di dadanya dan kelaminnya sudah tak ada lagi.
Di antara kerumunan orang yang menyaksikan mayat yang belum ada seorang pun yang merasa mengenalnya itu, seorang wanita muda tiba-tiba muncul menerobos dan menjerit histeris. Ia menangis. Tubuhnya terguncang-guncang di atas sosok mayat yang mulai dingin.
“Bram, siapa yang telah berbuat sekejam ini.” Tangisnya menggema di antara kebisuan yang seketika menerjang orang-orang yang mengerubunginya.
Orang-orang semakin kebingungan melihat tingkah wanita yang terus saja memeluk mayat itu. Dan beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar raungan sirine kendaraan polisi yang memburu ke arah kerumunan orang-orang yang makin banyak.
“Kenapa kalian hanya berdiri seperti patung!” hardiknya. “Cepat cari pertolongan! Dia harus segera dibawa ke rumah sakit. Nyawanya harus diselamatkan.” Ia masih saja memeluk tubuh mayat itu. Tak ada yang bergerak. Seperti terhipnotis, orang-orang di sekitarnya malah semakin membisu.
“Bram, ayo bangun! Kamu harus hidup. Kamu tidak boleh me­ninggalkan aku. Aku sangat mencintaimu.”  Perempuan itu mengguncang-guncang tubuh mayat orang yang dipanggilnya Bram. Tak ada reaksi. Lelaki itu memang telah mati. Namun, perempuan itu sepertinya tak mau tahu. Ia masih tak percaya.
Sejak mayat itu ditemukan orang-orang tidak berani mendekat, apalagi menyentuhnya. Mereka takut dijadikan saksi apalagi ter­sangka. Namun, diantara kerumunan orang yang membisu dan sesekali juga kasak-kusuk, seseorang dengan gesit berlari mencari telepon umum dan memanggil polisi.
Beberapa saat kemudian beberapa orang polisi sudah berada di TKP. Mereka segera memasang police line untuk mengevakuasi mayat yang ditemukan, agar proses pemerikasaan tidak  terganggu oleh semakin banyaknya orang yang berjubel. Dan juga agar bukti-bukti yang mungkin dapat menjadi pendukung penyelidikan tidak hilang. 
Perempuan itu masih saja memeluk tubuh mayat itu dengan erat. Petugas sedikit mengalami kesulitan, sebab ia tak mau melepaskan  pelukannya. Malah perempuan itu semakin erat melingkarkan lengannya. Namun, setelah diberi pengertian, akhirnya ia pun perlahan bergeser dan sedikit menjauh.
Setelah evakuasi selesai, salah seorang petugas membungkuk di samping mayat dan mengeluarkan dompet dari celana kain yang juga terkena bercak darah dari dua lubang yang cukup besar men­ganga di tubuh mayat itu. Pentugas memeriksa identitas mayat. Namanya Ibrahim. Ia tinggal di Jalan Jendral Sudirman No 21. Pekerjaan Pengusaha.
“Adik mengenal orang ini,” tanya seorang petugas yang menghampiri perempuan yang masih terisak.
“Saya kekasihnya.”
“Kalau begitu anda nanti ikut ke kantor untuk memberi keter­angan.”
“Bbbaik, Pak,” ujarnya masih terisak. Tubuhnya masih terguncang karena sesak di dada yang sulit dikeluarkannya, selain dengan cara menangis.
Beberapa petugas juga memeriksa tempat yang berada di seki­tar lokasi mayat ditemukan dan menanyai beberapa orang yang masih berada di sekitar lokasi.
“Siapa yang pertama melihat mayat ini?” Seorang polisi bertanya pada orang-orang yang semakin banyak berkerumun di luar garis kuning.
Namun orang-orang itu hanya terdiam. Beberapa di antaranya saling memandang. Bahkan ada yang kasak-kusuk, namun tak ada yang menja­wab. Mungkin mereka takut untuk menjadi saksi. Sebab mungkin mereka pernah mendengar, dalam proses pemeriksaan,  ada saksi yang tanpa diduga tiba-tiba menjadi tersangka. Belum lagi teror yang biasa dilakukan petugas saat memeriksa seseorang, baik dalam kapasitas sebagai saksi terlebih jika telah menjadi tersangka.
Mereka masih saja terdiam. Sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bahkan semuanya seakan berubah menjadi patung yang menatap kosong. Tak ada riak. Dan perlahan-lahan mereka meninggalkan tempat itu satu per satu. Tak ada yang ber­suara. Mereka melangkah sambil membenturkan pandangannya ke tembok-tembok kokoh gedung-gedung yang menjulang, serta trotoar dan pedagang asongan yang kembali berjualan. Seakan tak pernah ada yang terjadi. Tak ada kejadian yang berarti hari ini. Pikiran mereka melambung jauh. Peristiwa itu hanya berlangsung  beberapa menit. Lalu semuanya seperti biasa.
Dan tak jauh dari tempat itu, di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, seorang wanita berdiri kaku. Ia tersenyum puas. Sinar matanya berpendar penuh kemenangan.
“Ia telah mati.” Bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan.
Polisi masih sibuk dengan penyelidiknya. Orang- orang tidak lagi berkerumun. Mereka tidak lagi bernafsu meyaksikan keseriusan —atau mungkin nanti akan  menjadi kepuraa-puraan— polisi yang nampak masih tekun memeriksa berbagai tempat yang diduga mungkin masih menyisakan jejak yang bisa menjadi bukti untuk menemukan pelaku pembunuhan tersebut. Tak ada saksi.
Setelah rampung, mayat itu kemudian dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Petugas juga membawa beberapa bukti, termasuk wanita yang mengaku sebagai kekasih dari orang yang ditemukan telah menjadi mayat itu untuk dimintai keterangan.
Wanita yang masih berdiri di bawah pohon itu, perlahan beranjak meninggalkan tempat. Langkahnya begitu ringan menuju ke sebuah mobil sedan yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil mengenakan kacamata hitam yang tergantung di antara kra bajunya, ia memasuki mobil dan melarikannya dengan tenang.

***

“Bagaimana, kamu puas dengan cara dan hasil kerjaku?”
“Kamu memang hebat! Ia sudah mati. Dendamku terhadapnya telah terbalas. Aku puas!” Perempuan itu memeluk erat lelaki yang berbaring di sampingnya.
“Aku melakukan semuanya karena aku begitu mencintaimu. Aku tak ingin kamu hidup dengan dendam yang terus berkecamuk di dalam batinmu. Aku tak ingin, saat kita membina rumah tangga nanti, kamu terus dihantui oleh dendammu yang belum juga padam. Aku ingin segera memadamkan semuanya.
“Tapi kamu telah membunuh empat orang. Aku takut nanti kau akan tertangkap.” Wanita itu perlahan menciumi wajah lelaki itu dan menjamah tubuhnya yang setengah telanjang. Dada yang lebar penuh dengan bulu itu dielusnya. Ia perlahan menciumi bibir tebal dengan kumis yang melintang di atas bibir lelaki itu.
“Makanya, aku harus membereskan semuanya secara profesional. Semuanya harus bersih dari jejak.” Lelaki itu perlahan menatap wajah wanita yang tubuhnya hanya dibalut baju tidur yang tipis itu. Lekuk-lekuk tubuhnya yang sedang berbaring begitu indah dan menantang. Ia menelan air liurnya. Nafasnya mulai memburu. Ia semakin tak dapat menahan gejolak keinginannya  untuk merengkuh kenikmatan dari tubuh yang ditawarkan di hadapannya.
Malam itu sebuah lakon Adam dan Hawa, berabad yang lalu, kembali terulang. Dua tubuh yang saling bergelut dalam merengkuh sebuah kenikmatan telah menjelma menjadi sepasang kuda liar yang berlari di tengah padang luas. Tubuh mereka bersimbah kerin­gat. Malam terasa berlalu begitu saja. Angin dingin yang men­cengkram menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar hotel yang sedikit terbuka. AC di ruangan itu memang sengaja tidak diaktifkan.
“Sinta, aku sangat bahagia malam ini.” Lelaki itu mengusap keringat yang merayapi wajah wanita di sampingnya. Ditatapnya wajah ayu perempuan yang dikenalnya beberapa bulan lalu itu.
“Aku juga merasa bahagia. Kamu benar-benar hebat. Aku baru menemukan lelaki sepertimu.” Didekapnya tubuh lelaki yang masih bersimbah keringat itu.
“Aku begitu mencintaimu.”
“Aku juga.” Sinta membaringkan kepalanya di dada  lelaki itu. “Kamu masih mau membantuku?”
“Masih adakah kobaran dendam yang tersisa di hatimu yang harus aku padamkan?”
“Ya. Ini yang terakhir. Setelah itu kita dapat hidup berba­hagia,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasn­ya. “Ini orangnya.”
Lelaki itu menatap tajam foto yang diserahkan Sinta kepadan­ya. Sorot matanya begitu tajam, seakan ingin merobek-robek tubuh yang berada di foto itu. Tangannya bergetar, giginya bergemeretak keras. “Baiklah, aku akan membereskannya!”
Sinta itu tersenyum. Begitu bahagia. “Kamu memang baik. Aku semakin tak meragukan cintamu.” Lelaki itu juga tersenyum.
Persekutuan setan sedang berjalan. Mereka kembali menghabiskan malam dengan segala kenikmatan semu yang ditawarkan iblis. Sentuhan halusnya telah membelai dan menggeleparkan kedua tubuh yang polos itu.

***

Dua hari kemudian, di televisi dan koran-koran, dihiasi sebuah berita pembunuhan pengusaha tempat hiburan. Sesosok mayat ditemukan di pagi buta, di sebuah jalan protokol yang saat itu masih sunyi. Kondisi korban sangat menyedihkan. Dua lubang yang cukup besar di dada dan kelaminnya juga sudah tidak ada.
Dan seperti biasanya jika ada sesuatu yang menarik, masyar­akat pun berkumpul. Mereka berkerumun di sekitar lokasi mayat ditemukan. Tatapan mata mereka begitu lelah menyorot ke arah mayat dengan kondisi yang menyedihkan itu. Tubuhnya kaku bersim­bah darah. Matanya melotot, dengan lidah yang menjulur.
“Sadis!” Seorang berseloroh dengan wajah kecut sambil mem­buang ludahnya ke tanah. Beberapa orang di antaranya pun berselor­oh seakan mengikuti pernyataan itu. Polisi kemudian memasang police line untuk mengevakuasi lokasi. Masyarakat kemudian perlahan menjauh. Pembunuhan itu memang menyisakan kengerian yang sangat luar biasa.
Polisi kembali disibukkan dengan pembunuhan sadis itu. Benar-benar bersih dan profesional. Tak ada tanda-tanda yang ditinggalkan pembunuh. Tak ada saksi yang dapat memberikan keter­angan yang mungkin dapat sedikit memberikan titik terang untuk mengungkap kasus pembunuhan itu. Benar-benar bersih. Sidik jari pun tak ada.
“Tak ada tanda-tanda, Pak.” Seorang petugas melapor pada komandannya yang berada tak jauh dari tempat mayat itu membujur.
“Sudah kamu periksa di sekitar tempat ini? Bagaimana dengan orang-orang yang ada di sekitar sini, apa sudah kamu tanya juga? Mungkin ada di antara mereka yang melihat atau paling tidak mendengar sesuatu yang aneh tadi malam.”
“Sudah, Pak. Tapi tak satupun yang dapat kita jadikan bukti untuk segera membongkar kasus ini.”
“Kita harus segera membongkar kasus pembunuhan ini. Saya yakin pelakunya sama. Kondisi korban pembunuhan yang lima kali berturut-turut dalam waktu sebulan ini, semuanya sama. Dan dua orang belakangan ini yang dibunuh adalah pengusaha.” Polisi kembali terus melakukan penyelidikan. Mereka seakan kehilangan jejak.
Di antara kesibukan polisi di lokasi mayat ditemukan, dari dalam sebuah mobil yang kacanya sedikit terbuka, tak jauh dari tempat itu, seorang wanita muda menyunggingkan senyum kepuasan. Bibirnya yang mungil dengan lipstik merah menantang, merekah indah penuh kemenangan. Sesekali giginya yang putih bersih tersingkap.
Tiba-tiba wajahnya menegang. “Kalian telah merasakan pemba­lasanku! Aku puas! Kalian dulu telah menjerumuskan aku, hingga harus melakoni pekerjaan sebagai Wanita Tuna Susila.” Perlahan ia menutup kaca mobilnya dan kendaraan itupun melaju dengan tenang.

***

“Halo. Jack, kamu memang hebat. Aku tak percaya kamu melaku­kannya dengan sempurna. Sekarang aku menunggu di kamar 909, di tempat biasa.” Suara perempuan terdengar renyah. Aliran darah tiba-tiba mengalir kencang membentur dinding keimanan yang kian rapuh.
Di sebuah kamar hotel megah angin tak bertiup dengan baik. Terbentur dinding-dinding kaca yang terpancang angkuh. Aroma udara dari air conditioner terasa meremukkan tulang.
Sinta berbaring terlentang. Tatapannya kaku seolah ingin menerobos tebalnya langit-langit kamar yang telah banyak menitipkan kenangan indah sekaligus segunung dendam dalam jiwanya. Angan perempuan dengan bibir yang masih dipenuhi polesan lipstik itu menggelayut di langit 10 tahun yang lalu. Dadanya tiba-tiba turun naik dengan cepat. Nafasnya menderu mengeluarkan. Dendam telah menguasai dirinya; merasuki setiap aliran darahnya; membadai dalam setiap aliran nafasnya.
“Mengapa aku harus mengalami kepahitan ini?” Bibirnya bergetar menahan sesak di dada. Tangisnya menggedor-gedor, berontak dari kegamangan masa lalu. Ia menarik nafas dalam-dalam berusaha mengeluarkan sesak yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka terdengar. Seorang lelaki muda muncul. Mengenakan celana jeans dengan stelan baju lengan panjang, ia menghenyakkan pantatnya di atas pembaringan di samping Sinta yang malam itu mengenakan pakaian tidur yang tipis.
Sinta langsung meraih tubuh kekar lelaki itu dan mendekapnya mesra. “Malam ini kau harus merasakan sesuatu yang sangat istime­wa dariku. Aku ingin membahagiakamu. Kamu benar-benar hebat.” Suaranya begitu manja membuat kelaki-lakian Jack berguncang hebat.
Perlahan Sinta mengambil tali dari atas meja yang berada di samping tempat tidur serta sehelai saputangan berwarna merah jambu.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Lelaki itu sedikit terperanjat.
“Aku ingin kau merasakan sesuatu yang lain, yang selama ini tak pernah kau rasakan selama kita berhubungan.”
“Tapi mengapa kau mengambil tali dan saputangan.” Mimik lelaki itu masih melukiskan guratan tanda tanya besar. Namun, beberapa saat kemudian, ia tersenyum.
“Sebenarnya aku ....”
“Aku mengerti.”
Dan dengan gerakan lembut, Sinta meraih tubuh Jack yang masih duduk di sampingnya dan membaringkannya perlahan. Satu persatu ia mencopot pakaian Jack dan mengikat tangan dan kakinya. Setelah itu, saputangan yang masih berada di tangannya diikat­kannya ke mulut lelaki yang kini seperti orang yang tak berdaya itu.
Perlahan ia mendekap tubuh Jack dengan mesra. Tubuhnya merangsek ke atas tubuh kekar lelaki yang seakan tak berdaya itu. Gairahnya semakin memuncak. Sinta mempermainkan segala yang mampu membuat lelaki itu menggeliat. Perempuan itu begitu liar. Jack pun tak mau kalah. Meski kaki, tangan dan mulutnya terikat, ia tetap mampu berlari kencang mengikuti gerak binal perempuan yang semakin buas seolah ingin memangsanya itu. Keduanya terus berpacu menuju segala puncak-puncak kenikmatan, meraih semua impian duniawi.
Dan.... “Ahhh....!” Darah pun muncerat dari tubuh Jack. Saat ia berlari semakin cepat dan hampir meraih puncak lembut belaian iblis, dari tangan Sinta, tiba-tiba ia melihat sebilah pisau dengan cepat menancap di tubuhnya. Ia mengejang dan matanya melotot. Kecepatannya berkurang. Yang ia rasakan hanya perih menggerogoti. Nafasnya yang tadi menderu perlahan melemah. Debar jantungnya perlahan lalu diam. Ia terkapar dengan dua lubang besar di dadanya. Bahkan sesuatu dibanggakannya di depan setiap wanita yang dikencaninya, kini berada di genggaman Sinta, perempuan yang begitu ia dicintai.
Sinta tersenyum puas. Bahkan menjelma menjadi tawa yang menyeringai, “Haa....haa....! Kini kau telah merasa­kan sesuatu yang kumaksud. Dan kau memang harus merasakannya. Kau telah mengambil sesuatu yang begitu berharga dari tubuh adikku, hingga ia harus bunuh diri.”
Matanya mendelik liar. Senyumnya tiba-tiba begitu menyeram­kan. Sebilah pisau yang tergenggam di tangannya masih meneteskan darah segar. Suasana malam begitu sepi dan mencekam. Tawa perempuan itu seketika menjelma kubur. Angin yang berhembus mencengkram dingin yang disusupkannya dari celah jendela yang sedikit terbuka tiba-tiba mati.
“Andi, maafkan aku. Aku tak dapat hidup bersama , apalagi harus membahagiakanmu. Dendam telah mencemari jiwaku. Aku benar-benar tak pantas mendampingimu.”
Dan di samping tubuh lelaki yang terkapar bersimbah darah, seorang perempuan terbaring mendekap air mata. Di dadanya tertancap tegas sebilah pisau dengan kelamin lelaki yang masih tergenggam erat di tangannya.

Makassar, 10 Desember 1999

0 comment