Sunday, February 25, 2018

Namamu Lola

Cerpen Idwar Anwar

Malam itu, aku sedang menunggu deringan teleponmu yang setiap malam menemani dan mengguncang gendang telingaku. Sebuah kerinduan yang acapkali mengganggu ketentraman hatiku, saat kesunyian malam merambah di atas kota ini. Saat itu, kau memang kerap menemani kesendirianku di kesunyian malam.
Namamu Lola. Entah mengapa, kita tiba-tiba saja berkenalan di kesunyian malam itu, saat angin bulan September mulai bertiup. Dan pada akhirnya, menggiring kita pada sebuah –yang sering kusebut— pseudo percintaan. Aku pun heran, seperti keherananmu saat kita bercengkramah di sebuah cafe. Malam itu, kau banyak bertutur tentang kehidupan dan cinta lewat bibirmu yang dipolesi lipstik dengan dandanan yang seakan mewakili kehidupan glamor kota metropolitan.
“Ah, lupakan saja. Ini mungkin takdir yang memang harus aku lalui sebagai seorang pekerja seks,” katamu dengan nada tegar.
Aku terpana. Kau sepertinya pasrah dengan pekerjaan yang selama ini kau geluti. “Kau tak pernah berpikir untuk meninggalkan kehidupanmu yang penuh kepura-puraan ini. Kehidupan yang di mata masyarakat begitu nista?”
“Kepura-puraan? Ah, kau seperti tak tahu saja. Kehidupan ini telah lama dipenuhi virus kepura-puraan, bukan hanya dalam kehidupanku. Harga diri, tahta, harta dan wanita merupakan sumber dari kepura-puraan di dunia ini,” ucapanmu lirih. Sesekali rambutmu kau kibaskan. Harumnya menebar mengelus lubang hidungku. Geraiannya sedikit menutupi balahan wajahmu yang terlihat penuh polesan bedak.
“Sejak lahir, kita telah berada dalam dunia kepura-puraan. Dunia yang menurutmu mungkin tidak seperti yang kukatakan. Sebab kau lahir dari rahim yang dirahmati Tuhan. Bukan berarti aku berasal dari rahim yang tidak mendapat rahmat dari Tuhan. Tapi inilah aku, yang lahir dari rahim seorang ibu yang telah tega membiarkanku hidup tanpa kasih sayang.”
Matamu menatap kosong. Sesekali kau menarik nafas; begitu berat. Rokok yang sejak tadi terselip di antara jemarimu, kembali kau isap. Asap mengepul membentuk lingkaran-lingkaran. Dan sesekali lingkaran itu kau hempaskan dengan jemarimu yang lentik.
“Entahlah.” Kau kembali berbicara, setelah meletakkan rokok mentol yang kau hisap di bibir asbak yang telah penuh dengan puntung rokok. “Aku berada di dunia ini mungkin karena terpaksa. Sebab kedua orang tuaku telah menganggapku serigala yang kelak akan memangsanya. Sehingga sebelum aku keluar, aku sering dihujani dengan obat-obatan, agar aku tak dapat melihat dunia ini. Terlebih untuk mengetahui perbuatan dan juga menyaksikan kemunafikan serta kepengecutan orang yang semestinya saat ini kupanggil ayah. Seseorang yang seharusnya dapat melindungiku.”
Kau menatapku perlahan. Sorotnya begitu tajam. Tiba-tiba ada sesuatu yang kurasakan begitu menekan-nekan kesadaranku. Tatapan matamu semakin tajam menghujam nuraniku. Perlahan kupejamkan mata. Ada debar yang seketika saja datang mengguncang jantungku. Sementara di luar rinai hujan dengan  kepak sayap-sayap basahnya bercerita tentang harumnya bunga-bunga yang memekik tertiup angin beku.
“Mungkin kau tak pernah merenungi kehidupan yang sedang kau jalani ini.“ Tiba-tiba kau menudingku dengan sengit. “Coba kau lihat anak-anak yang dilahirkan dari rahim para kupu-kupu malam yang telah ditinggalkan ayah mereka yang entah siapa. Atau mereka yang dilahirkan dalam keluarga miskin. Mereka tiba-tiba langsung merasakan begitu kerasnya kerhidupan. Atau…ah, aku begitu pusing memikirkan kehidupan ini, terlebih kehidupan yang sedang kujalani.”
“Tapi kan tidak semudah itu kita menganggap kehidupan ini penuh kepura-puraan.”
“ Memang. Tapi inikan kenyataan yang mau tidak mau harus kita akui.”
Aku hanya mampu menatap matamu. Kehidupan ini memang benar-benar telah membelenggu dirimu. Kau seperti trauma dengan kehidupan yang selama ini menyelubungi perjalanan hidupmu. Hingga kau menganggap kehidupan dunia ini semuanya penuh kepura-puraan. Kejujuran bagimu mungkin hanya ada di tong-tong  sampah yang selalu kita buang jika akan melakukan sesuatu.
Tapi, kau mungkin benar. Selama ini aku banyak melihat orang yang pura-pura berbuat baik, namun pada akhirnya mereka ternyata punya tendensi tertentu. Atau ada orang yang jika berhadapan dengan kita begitu baik, tapi setelah kita pergi, mereka pun menceritakan kebobrokan kita. Bahkan menghancurkan kita dari belakang.
Aku sendiri mengakui, terkadang harus berpura-pura hormat pada sesorang yang sebenarnya sangat aku benci. Kemudian di belakang, aku lalu bercerita tentang segala macam keburukannya hanya untuk mendapatkan sesuatu. Aku juga sering berbuat baik di depan seseorang, hanya untuk menutupi kesalahan. Dan masih banyak lagi kepura-puraan yang sempat kusaksikan dan sekaligus kuperbuat dalam kehidupan  ini.
Lalu, kesunyian merambati bagai musim beku.
“Tapi, pekerjaan yang kau lakukan inikan telah merendahkan derajat seorang wanita?” ucapku memecah kebisuan.
“Merendahkan, katamu?” ucapanmu dengan suara meninggi, mungkin sedikit kesal. “Kau pernah membaca Novel Nawal El – Sadawi, judulnya, Perempuan di titik nol?” katamu dengan mimik serius.
Aku diam-diam terkagum dengan bacaannya.
“Atau lihatlah realitas di sekelilingmu,” sambungnya, “Bagaimana seorang wanita diperjual-belikan oleh orang tuanya jika ada seseorang yang akan melamarnya. Ironis tidak, jika hanya karena tidak cocok dengan harga, lamaran seorang laki-laki bisa ditolak. Bukankah itu pertanda bahwa derajat seorang wanita hanya dinilai dengan uang atau ditentukan oleh berapa harga mereka. Lantas, di mana letak nilai cinta yang sangat suci yang diberikan oleh Tuhan? Oke, anggaplah ini hanya kasus di masyarakat kita. Tapi, cobalah kita melihat di bagian lain dari dunia ini.”
“Jadi, kau menilai derajat seorang wanita seperti barang dagangan.”
“Bukan hanya aku yang berpikir seperti itu. Tapi mungkin hampir semua wanita yang ada di muka bumi ini. Atau paling tidak orang tua mereka. Lihat saja, seorang wanita yang melangsungkan perkawinan, sebelumnya mereka harus dibeli; lima juta, sepeluh juta atau bahkan sampai ratusan juta. Setelah itu, mereka pun telah sah menjadi milik suami dan bisa dipergunakan selama-lamanya sampai suaminya merasa bosan dan mencari lagi wanita yang lain. Atau mungkin saja mereka hanya akan dieksploitasi. Dan setelah itu semua orang akan tahu bahwa derajat atau nilai wanita tersebut hanya lima juta, sepuluh juta atau seratus juta. Apa bedanya dengan saya. Bahkan harga saya mungkin lebih tinggi dibanding mereka yang telah menikah dan dibeli dengan harga 5 juta atau 20 juta. Sedang saya dalam sebulan bisa seharga lebih dari itu.”
“Tapi ada yang disebut mahar. Yang dalam agama Islam menandakan rasa hormat dan keinginan sungguh-sunggguh dari seorang laki-laki kepada seorang wanita untuk dijadikan istri. Dan itu tidak hanya dinilai dengan uang.”
“Iya. Aku juga tahu. Tapi untuk apa uang yang sampai ratusan juta itu? Yang realistislah. Sangat jarang seorang wanita atau paling tidak orang tua si wanita ingin menerima pinangan dari seorang laki-laki, jika pihak laki-laki tidak mampu menyiapkan uang puluhan juta  atau ratusan juta. Mereka seolah-olah harus dibeli dan orang tua mereka sepertinya juga siap menjual. Untuk pestalah. Ya, menjaga gengsi di depan teman-teman, saudara, tetangga, atau keluarga. Apakah kesakralan perkawinan hanya diukur dengan materi atau gensi seperti itu? Aku heran!”
“Ah, sudahlah, aku tidak ingin berdebat mengenai derajat atau nilai seorang wanita. Tapi yang jelas kau telah menjual diri. Dan kau perlu tahu, pekerjaan yang selama ini kau lakukan penuh dengan dosa. Mengapa kau tidak menikah saja. Bukankah itu lebih baik dan sah.”
“Kau mengatakan aku menjual diri. Tidakkah kau sadari bahwa orang-orang yang berada di sekitar kita ini, banyak yang berprofesi sebagai penjual diri bahkan jadi pengemis dan penjilat.”
“Ah sudahlah! Mengapa malam ini kita sok pintar dan sok suci saja. Lebih baik kita bersenang-senang.”
Lantas kita pun bercakap dalam diam sungai yang keruh, sebab perbincangan kita memang bukanlah perbincangan abadi. Mungkin hanya sebentuk letupan tungku yang terbakar api atau jeritan ilalang yang terpanggang matahari.
Dan malam itu, akhirnya kita lewatkan dengan penuh gairah. Kau menggiringku ke dalam duniamu, sebuah dunia yang belum pernah kukenal. Dunia yang selama ini abstrak, saat itu menjadi begitu nyata. Kau telah menyuguhkannya buatku. Ya, dengan segala gairah yang kau miliki. Kau mengajakku berlari di tengah padang yang begitu luas dan mendaki ke puncak-puncak bukit yang penuh kuntum-kuntum bunga. Nafasku tidak teratur, keringatku bercucuran, dan aku merasakan sebuah sentuhan halus yang melelapkan. Bagai kuda betina kau berlari liar dan aku pun merasa begitu jantan mengejarmu. Angin malam yang bertiup saat itu kurasakan sebagai sentuhan lembut tangan-tangan iblis yang membelai kita. Kuakui, malam itu aku harus berjuang menghadapimu. Dan akhirnya aku terkulai di sampingmu dengan bersimbah keringat. Kau tersenyum, dan kita pun mengakhiri sebuah permainan iblis. Kita telah menjadi pemain yang baik.

Þ

Malam semakin larut, namun teleponmu belum juga terdengar. Nyala lilin dihadapanku menari dan sesekali meredup. Angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, diam-diam menyusup ke dalam kamarku yang penuh coretan namamu dengan segala cerita tentang perjalanan pseudo percintaan kita. Sebuah perjalanan yang penuh ketakutan, namun juga penuh kenangan.
Malam ini, malam minggu. Jam di dinding kamarku yang penuh sarang laba-laba dan debu yang menempel menghiasi, telah menunjukkan pukul 2.00 dini hari. Aku seketika teringat di suatu malam, ketika kau tiba-tiba meneleponku dan menangis. Isak tangismu begitu memilukan. Nada suaramu serak, seolah alkohol yang panas telah memasuki tenggorokanmu. Malam itu, kau sedang mabuk. Minuman yang sejak kita berkenalan tak pernah lagi mengalir di kerongkonganmu, saat itu berbotol-botol telah memasukinya.
“Kau telah membohongiku,” katamu ketika itu.
Aku heran, kau menuntut kejujuran dariku. Bukankah selama ini kau hidup dalam dunia yang penuh kebohongan, penuh kepura-puraan dan pencintaan kita pun hanya sebuah kepura-puraan. Dan aku juga, seperti katamu, hidup dalam dunia yang penuh kepura-puraan.
Bukankah percintaan kita hanya sebuah permainan, yang jika lelah kita akan berhenti sendiri. Percintaan kita, sekali lagi hanyalah percintaan semu, yang ketika sadar, kita akan mendapatkan sesuatu yang tidak seperti yang kita bayangkan. “Ah, sudahlah. Kau tidak perlu menangis,” ucapku saat itu.
Memang tak perlu ada air bening yang mengalir di mata. Bukankah kita sepakat percintaan ini bukanlah percintaan abadi. Kita memang pernah jalan bersama, menemani bintang-bintang dan bulan yang redup. Malam yang kau janjikan buatku telah kita jalani bersama. Kita reguk keindahan malam tanpa sedikit pun yang tersisa. Kau begitu bahagia malam itu. Segala kemunafikan cinta dan kasih sayang yang selama ini kau berikan kepada setiap orang yang menginginkanmu, tak sedikit pun kau berikan padaku. Kau telah memberikan kesucian cinta dan kasih sayangmu. Aku bisa merasakannya.
Tapi malam ini, entah mengapa aku benar-benar teringat padamu. Deringan teleponmu telah memenjarakan kesadaranku. Tanpa terasa, malam semakin larut. Lilin dihadapanku semakin pupus terbakar. Ia telah merelakan dirinya habis terbakar demi menemaniku dan menghiasi kegelapan malam yang kian pekat. Kebisuan menyelimutiku bersama kebekuan dinding-dinding kamar.
Kutarik nafas dalam-dalam. Rongga dadaku yang makin sesak seakan ingin meledak. Kesadaranku timbul tenggelam. Lalu tiba-tiba aku sadar, malam ini, ternyata cukup sebulan kau meninggalkan dunia ini. Meninggalkan duniamu yang penuh kebohongan, meninggalkan kenangan yang tak pernah hilang. Ada cerita yang seketika hadir dan menjelma genangan duka yang tak pernah kulupakan. Lalu duka itu seketika menjelma genangan air mata.
Entahlah mengapa malam ini aku masih tetap menanti deringan teleponmu. Deringan yang sejak dulu sering menemani kesendirianku di tengah malam yang sepi. Deringan yang telah mengawali perkenalan kita. Sebuah deringan yang mengantarku pada kerinduan dan sekaligus penyesalan yang mungkin hanya akan musnah bersama jasadku.
Aku sadar, kau memang telah lama meninggalkanku. Namun percintaan yang pernah kita jalani telah menyisakan sesuatu yang tak pernah terlupakan. Sesuatu yang terus mengalir dalam darah dan terus menggerogoti tubuhku. AIDS. Yah, kau telah meninggalkan penyakit itu untukku sebagai kenangan percintaan kita. Percintaan yang selama ini kusebut pseudo, sesuatu yang semu, ternyata bukanlah pseudo. Ada kenyataan yang kau tinggalkan. Sesuatu yang membuatku tak pernah melupakanmu.


Di sebuah kota tua yang beku,
dalam tahun 1996 dan 2002

0 comment